Fiksi

pada akhirnya, hati saya pun larut dalam diam.

saya merasakan kecewa yang sangat besar, tanpa ada satupun orang yang dapat mengerti. saya tidak salah ataupun mencoba menyalahkan, saya hanya berusaha menjelaskan situasi yang memuakkan ini. saya hanya berusaha, untuk mengajak bersama – sama keluar dari situasi ini.

keadaan dimana dia merasa baik – baik saja sedangkan saya merasa ada banyak hal yang memilukan hati saya. bukan, saya bukan mengajak sakit hati bersama, saya hanya meminta pertolongan untuk keluar dari hati saya sendiri. sesusah itu kah untuk menjadi teman bicara? membantu saya mengurai beban yang saya sendiri, sama sekali tidak mengerti.

saya butuh teman bicara. saya benci keheningan.

tapi sekarang, saya hanya bisa bicara dalam hati, saya meronta dalam hati, saya bergurau dalam hati, terlalu penuh dalam hati, hingga saya merasa hati saya makin lemah. oh saya salah, hati saya sudah mati.

saya pergi, maaf saya tidak dapat memaafkan dia, dia yang sekalipun tidak pernah meminta maaf.

Advertisements

Mereka yang disebut ‘BONEK’

Bukan hanya kemarin Persebaya berlaga, dan bukan hanya kemarin para supporternya turun berkumpul. Bonek. Itulah sebutan untuk para supporter Persebaya. Saya? Saya bukan perempuan yang mengetahui tentang sepak bola, jadi ya saya bukan Bonek, tapi kalau boleh jujur saya perempuan yang takut berada dijalan kalau Bonek sedang berkumpul atau saat Persebaya sedang merumput. saya hanya mencoba jujur :).

Bonek. Mungkin untuk sebagian orang ketika mendengarnya akan merasa risih atau takut. karena memang tidak bisa dipungkiri Bonek memiliki image yang negative.

Tapi.

Sadarkah kita, pernahkah kita benar-benar memperhatikan para supporter tersebut. Tidakkah kalian merasakan sebuah cinta yang luar biasa besar terhadap Persebaya, Terhadap sepak bola. Saya merasa sangat takjub dan kagum saat melihat ribuan manusia berkumpul untuk sepak bola. Ya, mereka bersatu tanpa membedakan apa-apa. Meraka hanya memiliki satu kesamaan, menyaksikan Persebaya. sesederhana itu.

Perhatikan dengan seksama, Bonek tidak semenakutkan itu. Lihatlah lebih jelas banyak sisi yang tidak terlihat. mengapa hanya mengekspose segelintir oknum yang tidak bertanggung jawab yang mengaku Bonek dan membuat onar? saya tidak mengatakan yang membuat onar dan menjadi provokator bukan Bonek hanya saja meraka yang benar-benar Bonek datang untuk menyaksikan Persebaya bertanding. bukan begitu?

Apakah mungkin seorang ayah yang membawa anaknya yang masih kecil datang ke tribun untuk rusuh? Tidak. Apakah pasangan yang datang ke tribun datang untuk rusuh? Tidak. apakah segerembolan lelaki yang datang ke tribun datang untuk melecehkan perempuan di tribun? Tidak. Untuk apa mereka ke tribun? MENYAKSIKAN PERTANDINGAN.

Mereka datang dengan bangga dan harapan kemenangan, kemenangan bukan tuntutan, kemenangan adalah harapan Bonek pada Persebaya, karena saya yakin, sangat yakin Bonek pasti tahu sebuah pertandingan pasti ada kalah dan menang. bila Persebaya kalah, mereka kecewa. Wajar. apakah pada pertandingan Persebaya selanjutnya tribun menjadi sepi? apakah Bonek berhenti memberi support? tidak. tentu tidak. karena Bonek memiliki ketulusan yang besar.

Saya mencoba mengungkapan kekaguman terhadap mereka yang sejatinya adalah Bonek bukan hanya oknum yang mencoreng nama Bonek. Mereka mengajarkan bagaimana terus memberikan dukungan terhadap apa yang mereka cintai, kagumi, mereka dengan berani membela kawan mereka (semoga kedepannya membela dengan lebih baik bukan darah dibalas darah lagi), para Bonek tidak pernah berhenti memberi support meski terkadang mereka kecewa saat Persebaya tidak menang sesuai harapan mereka, Bonek selalu bersemangat, bersatu tanpa aba-aba, menyatu tanpa membedakan.

Teguhlah kalian para Bonek tanpa mudah diprovokator oleh para oknum yang tidak bertanggung jawab, yang hanya membuat nama Bonek semakin buruk. Kenakan dengan bangga atributmu, bersikan nama BONEK dimulai dari disendiri, jangan beri ruang untuk mereka yang memulai kerusuhan, tidak akan ada bentrok bila mereka hanya memancing tanpa mendapat respon.

Sebelum mempublish tulisan ini, saya berkunsultasi dengan teman saya yang begitu mencintai Bonek, dia Bonek berkelas menurut saya, dia mencintai Persebaya dengan sangat elegan. sebenarnya ada banyak sekali Bonek disekeliling saya bahkan teman perempuan saya ada yang menjadi Bonek, dan saya selalu melihat dia begitu antusias, begitu bahagia saat ‘mbonek‘.

Menurut teman saya, masalah dalam tubuh Bonek itu adalah masalah klasik, satu oknum yang berbuat, yang lain terpancing, akhirnya terjadi keributan, kadang berimbas pada warga sekitar, hingga bahkan memakan korban. Mungkin masalah klasik ini akan teratasi jika perbaikan dimulai dari diri Bonek sendiri, Jangan pernah terpancing oleh oknum yang sengaja ingin membuat keributan, tidak perlu arogan untuk menjadi keren saat berkonvoi, tanpa aroganpun, siapapun yang berkonvoi akan diberikan atau didahulukan oleh pengguna jalan. satu, dua bahkan sebagian Bonek tidak akan mampu merubah keseluruhan Bonek, yang mampu dilakukan hanya kamu menjadi Bonek yang lebih baik, meminta maaf tidak menurunkan derajatmu tapi menaikan nilaimu.

Kalian adalah generasi bangsa yang mampu mengajarkan bersatu dan menyatu dengan sederhana.

Sebuah Fiksi

Dia berkata, “tunggulah!! jangan terlalu cepat menuntut. jangan terlalu banyak menuntut.”

pada akhirnya saya mematuhi aturan yang tiba-tiba dibuat, dengan harapan apa yang saya harapkan akan diwujudkan. bukan barang mahal atau sesuatu yang akan menghabiskan uang banyak yang saya harapkan, hanya ‘sesuatu’ yang membutuhkan energinya lebih ekstra. Perhatian.

Menunggu. Itu yang saya lakukan kemudian. Sesuai aba-aba. Lalu pada akhirnya semua tenggelam dalam diam. Saya menunggu harapan saya terwujud dalam diam, saya menunggu untuk mendapat perhatian dengan diam, dan yang dia lakukan hanya diam, munggu, menunggu waktu yang tepat. dan semua lebur dalam diam.

Apakah ini yang dinamakan ‘perempuan’ lebih peka? saya berharap menjadi sosok yang lebih acuh karena hati saya sudah terlalu penuh sesak dengan kepekaan namun saya harus diam. Diam.

Tidak, saya tidak terbelenggu atau apapun. Saya hanya diam dengan harapan saya mendapatkan apa yang saya harapkan. Perhatian. Saya hanya mencoba untuk tidak menuntut. Jika saya berbicara, saya tidak tahu kapan waktu yang tepat, saya takut, saya terlalu cepat bicara sedangkan dia butuh waktu untuk memberi perhatian.

Ya, saya tahu ini tidak rumit dan ini tidak mudah. Saya suka berbicara, saya suka membicaran semua agar menjadi jelas dan hati saya tidak penuh sesak.

Tapi dia? Dia menyukai diam, entah apa dan bagaimana semua selesai dengan diam.

Saya memaksa dengan terus berbicara untuk menyelesaikan semua yang menyesakkan hati saya. ya saya egois memaksakan kehendak saya, cara saya untuk menyelesaikan sebuah masalah.

dan Dia, hanya diam. 🙂

Saya terus berbibaca berharap mendapatkan sebuah pengertian yang mungkin dia sendiri tidak memahami perhatian seperti apa yang saya harapkan. semakin banyak yang saya ucapakn, semakin dalam dia diam dalam keheningan. Sangat sunyi.

sesekali ajaklah saya bicara, tanyakan apa yang saya rasakan, turunkan egomu, mengertilah setiap kata yang saya ucapkan, pahami saya hanya ingin dipahami, bukan didiamkan.

dan pada akhirnya saya hilang, saya kehilangan dengan diam dan didiamkan.

Salam,

Saya yang tidak pernah ada didunia kalian tinggal, saya hanya sebuah hanyalan yang tercipta karena berdiam diri.

Akhir, dan Sebuah Awal

Saat sesuatu berakhir, maka akan ada sebuah hal yang baru dimulai, begitulah kehidupan berjalan.

Tahun ini sudah memasuki penghujung, banyak hal terjadi, banyak kegagalan terjadi dan sudah terlewati, banyak kesedihan dan air mata, dan sudah terlewati juga, banyak keinginan yang mungkin beberapa sudah dicapai.

Sebenarnya ini bukanlah awal yang sebenarnya awal, ini hanya sebuah babak baru, berlanjut dari babak sebelumnya. Jika babak sebelumnya tidak berakhir dengan cukup baik, mulai awal ini dengan hal yang jauh lebih baik, atau setidaknya yang kamu yakini akan menjadi baik. Hidup bukan seperti saldo pada akutansi, dimana akhir harus menjadi awal.

Jadikan semua kejadian menjadi bekal untuk terus menjadi semakin baik, semakin tangguh dan menjadi semakin bahagia. Dengan catatan jangan pernah merasa bahwa bekal yang dibawa adalah kebenaran mutlak. Terus maju, berbekal pelajaran yang ada dan terus sadari yang terjadi disekitar untuk selalu berkembang, bukan hanya maju tanpa tanpa beradaptasi, bukan hanya terdepan tanpa toleransi.

Selamat Tahun baru, selamat datang semangat yang semakin menggebu, Selamat datang mimpi yang terus melaju, mari berbahagia bersama.

 

Cobalah Tengok Sekitar

“coba deh jangan hanya duduk didepan, coba sesekali duduk dibelakang, biar kamu tahu apa yang lain rasakan”…. 

Aku teringat obrolan dengan teman kuliah dulu, saya paham maksudnya, hanya susah terima keadaan. waktu itu. Lama waktu berjalan, saya melupakan apa yang dikatakan oleh teman saya, mungkin sampai sekarang dia lupa pernah mengatakan ini pada saya.

Tapi beberapa keadaan mengingatkan saya dengan ucapan teman saya, sangat benar. Hidup bukan hanya bagaikan koin yang memiliki dua sisi, hidup lebih komplek dari itu, karena semua memiliki sudut pandang sendiri. tidak sama. tapi hidup tidak serumit itu, karena kita akan selalu belajar dari apa yang sudah terjadi, entah terjadi padi diri sendiri dimasa lalu atau mengamati apa yang terjadi disekitar.

Tidak perlu menjadi orang yang serba tahu untuk hidup dengan baik, beberapa orang akan menganggap ‘sok dewasa’ atau sebagian akan menganggap ‘tidak buka mata’. ya tidak buka, karena yang dilihat oleh mata kita, berbeda dengan apa yang lihat orang lain. sudahlah berhenti beranggapan bahwa kita mengatahui banyak hal, jika nyatanya kita hanya melihat satu titik. hidup kita. 

Berhenti sejenak, dan cobalah tengok sekitar. tengok dengan seksama, apa benar, segala sesuatu disekitar sama sengan apa yang dibenak. jika sama, beruntunglah anda. jika tidak sama? terima kenyataan, ada bagian yang tidak sesuai, hadapi dan perbaiki, bukan memaksakan sesuai dengan benak anda, karena lagi dan lagi, kita masih manusia, dan tetap jadi manusi dengan sebanyak-banyaknya perencanaan dan selalu Tuhan yang menentukan hasil.

Hi, Saya Hany.

Hi, Saya Hany.

Saya bukan lagi gadis berusia belia, tapi belum juga berusia dewasa, mungkin hampir dewasa iya. Buat apa saya menulis ini? Saya juga tidak tahu pasti. Saya hanya merasa ada gemuruh besar, sangat besar didada saya.

Begini, Saya sudah bekerja selepas sekolah menengah kejuruan. tidak banyak rupiah yang saya bisa kumpulkan, tapi saya suka bekerja, bukan hanya untuk uang, tapi saya suka menghabiskan waktu dengan bermanfaat. singkat cerita dengan ijazah SMK saya masuk disebuah kantor swasta, biasa memang tapi saya bangga. Dengan jam kerja tanpa shift dan hanya 8 jam sehari, berbeda dengan saat saya menjadi Sales Promotion Girl saya ingin melanjutkan study saya. 

Saya meneruskan pendidikan saya di sebuah sekolah tinggi dikota saya sepulang kerja. banyak orang yang bersecak kagum, entah itu sebuah kekaguman atau hanya basa basi? siapa yang peduli. Saya menikmati saat itu, saya merasa menjadi pelajar dengan uang saku tanpa batas. tidak peduli tidak ada tabungan dalam rekening, saya bangga menjadi pekerja sekaligus mahasiswa. kala itu.

Layaknya mayoritas anak muda yang tidak sepanjang itu memikirkan masa depan, saya selalu melewatkan untuk menabung. Saya melakukan apapun dengan rupiah yang saya punya. Mungkin, (atau pasti) saya melakukan hal tersebut hanya untuk mendapatkan decak kagum oleh rekan sebaya yang tidak bisa seperti saya. Bodoh. Ya saya sadar saya sangat bodoh. Memang dulu terasa bahagia, sepertinya. Saya melakukan ‘apa yang saya kira, munurut mereka adalah hal yang “wow”, bukan apa yang menurut saya membahagiakan’. 

Saya tidak sadar sebodoh itu saya, hidup hanya untuk mendapatkan decak kagum orang lain. kalaupun itu decak kagum? kalau hanya basa basi? bahkan cibiran? ah, hidup terkadang menjadi sekonyol ini.

Lantas bagaimana saya sekarang? Saya merasa masih dihukum oleh Tuhan. Why? meskipun saya tidak pamer, saya pernah hidup dengan tidak mensyukuri nikmat yang diberikan oleh-Nya. Saya hidup untuk saya, untuk membahagiakan orang-orang yang menyangi saya. Bukan egois, tapi berhenti hidup hanya untuk sorakan orang lain.

Mari belajar. Yang tua memang kuno, tapi jika didengarkan dengan seksama, hidupmu akan lebih mudah pada saat yabg sangat tepat. Sekian untuk bagian ini.

Pembelajaran dari ‘Sini’

Di sini adalah tempat kedua orang tuaku lahir, kedua orangtuanya orang tuaku lahir, dan orang tua, dari orangtuanya orang tuaku, orang tua kakek nenekku lahir.

Di sini bukan tempat yang terpencil, karena listrik dan air bersih dapat diakses dengan mudah, disini internetpun sudah dikenal oleh sedikit muda mudi, tapi disini bukan pula tempat yang maju, disini jauh dari kota, cukup jauh dari lampu kota yang menyala dimalam hari. Disini lebih akrab dengan gelap, jarak satu rumah dan lainnya cukup jauh, sepi sekali.

tapi sedikitpun saya tidak melihat penduduk disini kesepian, mereka terlihat dekat satu sama lain untuk rumah yang berjauhan. Penduduk disini bahagia. Bahagia dari sudut pandang saya, mereka tidak memiliki ‘apapun’ yang membuat orang seperti saya bahagia. Jelas mereka tidak memiliki gadget keluaran terbaru, tidak memerlukan pelesir kebelahan bumi yang lain, mereka hanya bercita – cita naik haji. Tapi mereka bahagia. ya jelas terlihat mereka tidak kesusahan dengan keadaan mereka. Tidak, mereka tidak hidup kekurangan, penduduk disini hidup dengan layak, meski hanya rumah dengan dinding bambu.

Oh iya, disini tidak memili pemandangan yang indah seperti yang ada di TV. disini hanya memiliki tumbuhan hijau yang sangat banyak, terlihat sangat indah saat matahari bersinar, dan membuat gelap semakin pekat saat malam datang.

Saya tidak dibesarkan disini, jadi saya sedikit susah untuk mengenali tetangga, yang saya ingat hanya bagaimana tempat ini berubah. setiap saya berkunjung, selalu ada yang berubah. ada rumah yang menghilang, ada rumah yang sudah ditumbuhi semak belukar. mereka yang tidak memiliki anak, lahir menikah, menua dan meninggalkan disini, mereka yang memiliki anak tinggal dan melanjutkan hidup disini. hidup jauh dari kemegahan hidup dikota. apakah mereka tidak ingin tahu bagaimana dunia berkembang dengan sangat sangat hebat? atau ini sudah cukup untuk mereka? apakah tidak berkenalan dengan globalisasi yang membuat mereka bahagia? Entahlah, yang jelas mereka bahagia.

Untuk membayangkan tinggal disini dan melanjutkan hidup disini saya sudah tidak mampu, bukan karena saya menghamba pada kemegahan kota, karena saya memiliki mimpi yang jauh dan tidak bisa terkurung disini. Tapi tidak dengan mereka, bukan mereka tidak memiliki mimpi, mereka bahagia. Mereka sederhana dan bahagia.

Banyak, banyak sekali yang saya pikirkan, bagaimana jika menjadi mereka dan sebagainya, bagaimana menjalani hidup disini, dengan gelap dimana – mana saat malam, dengan pengamanan yang minim, dengan pencuri yang hampir setiap malam mengintai. dan saya selalu tidak mampu untuk memikirkannya, tapi saya mampu, dengan lantang mengatakan mereka bahagia.

Bukan hanya hari ini saya berkunjung kesini, dan pikiran saya selalu sama, bagaimana bisa? Sungguh luar biasa mereka mampu hidup berbahagia dengan semua keterbatasan disini. Saat saya kembali kerutinitas dikota, saya akan mengingat bagaimana seorang nenek yang bertamu ke rumah saya, nenek yang sangat tua, tapi masi terlihat sangat bahagia, sangat sehat. Entah mengapa, nenek itu mengikatkan saya untuk lebih dan lebih bersyukur lagi.PhotoGrid_1511836885729

Dan satu lagi yang sangat sangat saya ingat, bagaimana penduduk di sini sangat menghormati satu sama lain, bahkan orang asing. Tidak perlu lebih kaya, lebih tinggi jabatan atau kelebihan yang lain, mereka tetap saling menghormati. Mereka bersilaturahmi dengan sangat baik, bahkan nenek yang datang kerumah saya, datang hanya untuk bersilaturahmi. Bukan hanya nenek, tapi beberapa tetangga datang hanya untuk berbincang, bukan bertanya bagaimana kota, tapi berkisah tentang kenangan saat nenek saya masih hidup, tentang bagaimana kenakalan saat mami saat masih kanak-kanak. Sangat ringan namun begitu hangat, saya suka saat tetangga berdatangan satu demi satu, hangat dan membuat saya sangat tersentuh. Terimakasih ❤.

 

Jangan Menyesal

Karena hidup terus berjalan. Berjalan maju. tidak ada jalan untuk kembali kebelakang, tidak akan pernah ada. Apa yang ada dibelakang hanya bisa ditengok, diingat dan dipelajari. Tidak ada kesempatan untuk berjalan kebelakang.

Jika sudah demikian, jangan biarkan penyeselan mendapatkan tempatnya. Apa yang sudah terjadi, biarkan apa adanya, menyesalpun tidak akan sedikitpun mampu merubah yang telah terjadi. Hidup berjalan, terus berjalan, dan tidak akan pernah terhentikan.

Lakukan semua yang perlu dilakukan, lakukan sebaik-baiknya, agar mendatang, tidak perlu berharap hari ini bisa diulang. Jangan berkata sulit, jika tidak ingin menjadi sulit. Yakini, semua mudah, berdoa agar dipermudah berusaha agar semua mudah. Jika memang sulit, tetap yakin bahwa segala kesulitan akan ada kuncinya. Semua tercipta lengkap dengan pasangannya. Tidak akan pernah terasa suka bila belum pernah merasakan duka.

 

Berbahagialah

Bahagia bukan datang dari luar, berhentilah mencari kebahagiaan. Bahagia datang dari segala penjuru. Temukan kebahagiaan terdekat, bahagia dari dalam hati. Jangan mengira bahagia seperti mereka, seperti orang lain.

Salah besar bila beranggapan bahwa bahagia adalah mereka. Diam sejenak dan lihat pada diri sendiri. Memang sangat berbeda dengan mereka. Karena perbedaan tersebut bahagia bukan seperti mereka, bukan seperti orang lain. Bila kita bisa bahagia dengan se-cup ice cream, lalu mengapa kita berpikir bahwa bahagia harus memiliki mobil mewah?

Jangan salah kaprah, bermimpi dan dan jadilah optimis untuk mewujudkan mimpi, tapi jangan menjadi tidak bahagia jika mimpi belum bisa digapai. Nikmati saja, Jika hari ini, masih mampu bernafas kamu bahagia, kamu masih memiliki kesempatan untuk meraih mimpi. Jika hari ini masih mampu berusaha, berbahagialah kamu semakin dekat dengan mimpimu.

Terima dengan baik apa yang Tuhan sudah gariskan. Jangan kecewa bila apa yang ingin digapai hari ini belum terwujud, setidaknya kamu semakin deket dengan usahamu. Lantas apa alasan untuk tidak berbahagia?

Cobaan datang, berbahagialah, kamu sedang diajarkan untuk lebih kuat. Berhenti berharap seperti orang lain, bersyukurlah untuk dirimu hari ini. Hari ini dan dirimu, bersepakatlah dengan dirimu untuk menentukan kesuksesan yang akan digapai. Lakukan sebaik-baiknya dan teruslah bersyukur, berbahagia, dan lihatlah sudah berapa deket kamu dengan kesuksesan yang kamu inginkan.

Jangan menjadikan hidup sulit. rasakan, semua yang menjadi milikmu, baik itu kelebihan dan kekurangan pasti mampu membuat bahagia. Jangan lupa untuk bersyukur dan berbahagialah.

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑