FIKSI (yang kesekian)

Terhanyut oleh sebuah rasa, rasa yang tak lagi indah, rasa yang tercemar oleh ego, rasa yang berubah menjadi emosi.

Diam. Sejenak saja. Jika memang perlu.

Jangan diam, jika hanya mencari waktu untuk berlalu.

Waktu tidak akan pernah berhenti, apapun keadaanmu, bagaimanapun perasaanmu, waktu tidak punya tanggung jawab akan itu semua, waktu hanya terus berjalan.

Siap tidak siap, mau tidak mau, kita akan berjalan bersama waktu, waktu yang akan membawa rasa itu bermuara pada sebuah hasil atau hanya nihil.

Diam. Kamu tahu bahwa waktu yang diperlukan untuk diam dan berpikir, itu memakan waktu. apakah kamu juga tahu, waktu yang terbuang mampu memupuk ego karena pembiaran?

Jangan salah paham, tidak ada yang meminta waktu penuh padamu, karena kamu juga harus menyediakan waktu untuk Tuhanmu, untuk hidupmu. Hanya ketahuilah, jangan meminta waktu hanya untuk melarikan diri. Tidak ada yang suka menunggu ditemani emosi.

Akan kemana rasa yang sudah menjadi emosi? tidak ada yang mampu menyatukan sesuatu yang panas, besipun meleleh.

Waktu, ini hanya perkara menunggu waktu, tentang apa yang diinginkan hari ini, tentang apa yang di janjikan hari ini, tentang apa yang ingin dirubah hari ini, semua hanya tinngal menunggu waktu untuk melihat hasil.

Akankan waktu mempertemukan kamu dengan apa yang diinginkan? jika waktumu terbuang begitu saja? tidak usah ditanya apa yang akan didapat. Terkecuali waktu yang berjalan, kamu habiskan untuk berusaha mewujudkan semua itu. hanya tinggal menunggu waktu untuk menuai semua yang sudah diusahakan. Benar? seharusnya benar.

Apa yang bisa diharapkan hanya dengan membuang-buang waktu.

Kembali ke rasa yang sudah mejadi emosi, fiksi yang terlulis hanya tentang rasa yang tidak sempuna. Perumpamaan rasa dalam banyak rupa, penyampain rasa dalam banyak rasa, semua hanya semu, karena tidak pernah ada dikehidupan nyata.

hi waktu, mari berjalan bersama untuk menikmati semua rasa yang tercipta.

 

Advertisements

Iri :)

Begini, ada beberapa hal yang sebaiknya tidak perlu dicari tahu lebih jauh lagi, bukan untuk bertindak tidak peduli, tapi agar lebih damai saja.

Kepo, Istilahnya pada pada era ini. Jika hanya dengan niat ‘cuma ingin tahu’ sebaiknya urungkan niat untuk mencari tahu.

Mengapa demikian? Simple saja, jika kenyataan yang dicari tahu ternyata tidak sesuai dengan harapan anda? Pasti hanya akan membuat tidak nyaman.

Misalnya saja, mencari tahu tentang keburukan orang lain, ternyata yang ditemukan adalah kebaikan? Apa rasanya? Coba anda pikirkan sendiri.

Bagaimana jika yang dicari tahu, apakah si A si B lebih buruk atau tidak lebih baik dari diri anda? Tapi kenyataannya si A si B ternyata lebih baik dari anda! Bagaimana perasaan anda? Saya rasa kecil kemungkinannya  anda akan berusaha menjadi lebih baik, yang ada anda hanya iri dan makin kesal.

Jika tujuannya untuk menjadi lebih baik saya rasa tidak perlu compare dengan si A si B. Mereka yang dipuncak tidak memerlukan pengakuan jika mereka dipuncak, yang ada mereka yang belum dipuncak yang sibuk mencari pengakuan.

Mungkin mereka yang sudah dipuncak hanya membandingkan hidup meraka sendiri antara dulu dan sekarang untuk tolak ukur hidup yang lebih baik dari sebelumnya.

Maaf No hard feeling ya, bukan bercerita tentang orang yang tidak baik terhadap saya, ini pure tentang pola pikir saya, sudut pandang saya based on cerita yang saya dengar dari seseorang.

Semua pencarian untuk tujuan kepo, hanya mendatangkan iri, jika tidak hanya akan menjadi kesombongan yang lebih jika yang dicari tahu memang tidak lebih baik dari kita.

Intinya, sudah tidak ada manfaatnya juga nambah penyakit hati juga. Ya sudah buat apa yakan..

Hidup ini sudah rumit, tidak usahlah ya dibuat makin rumit, dinikmati saja yang ada, disyukuri yang ada, belajar menerima apa yang dimiliki orang lain tidak selalu sama, dan gak akan bisa sama, rejeki kebaikan dan semua sudah di atur sama Allah. Berusaha sebaik mungkin dan terus istiomah. Tidak perlu meragukan kehendak Allah jika kita sudah benar – benar berusaha.

Sekian, sedikit tentang iri dan malam Minggu. Semoga hari anda menyenangkan 🙂

Apa milik kita?

Saya baru menyadari satu hal, kenapa segala hal yang kita miliki harus kita syukuri, karena semua itu hanya titipan.

Saya juga baru menyadari betapa baik dan menyenengkan hal – hal yang dipercayakan oleh Alllah kepada saya dan keluarga saya. Alhamdulillah.

Kemarin, nyaris kedua kalinya toko ibu saya hampir terbakar, saya takut. Selama perjalanan menuju toko saya tidak hentinya gemetar dan berpikir apa yang akan terjadi jika toko kami terbakar lagi. Saya takut sangat takut untuk memikirkan apa yang akan terjadi jika sampai toko kami benar-benar tebakar, toko yang satu – satunya mata pencarian dikelurga saya.

Maaf saya lupa jika apa yang setiap manusia miliki hanya titipan Allah, termasuk Toko ibu saya, dan semua toko yang disana sebenar-benarnya adalah milik Allah. pun demikian dengan seluruh hidup saya, kamu dan semua adalah milik Allah.

Setelah saya tahu bahwa toko kami Alhamdulillah tidak sampai terbakar, saya bersyukur, sangat bersyukur, tapi saya malu. Saya sebegitu takut kehilangan duniawi atau apapun itu, padahal itu hanya titipan, entah bagaimana caranya saya kehilangan, entah kebakaran disengaja atau apapun caranya, itu adalah jalan Allah untuk mengambil milikNya dan harus kita terima. Begitukan Seharusnya? meski sulit.

Saya teringat, saat masih SMP, toko kami terbakar, tidak ada barang yang tersisa, saya tidak tahu bagaimana keadaan dikeluarga saya saat itu, karena saya SMP diasrama, saya tinggal di kota yang berbeda dengan keluarga saya, tapi satu hal yang saya tahu, wajah ibu dan ayah saya sangat berbeda dari sebelumnya, ibu dan keluarga saya memang masih ceria, tp beliau sangat kurus dan terlihat lebih tua.

Entah seperti apa rasanya, dari toko layak disebuah pusat perbelanjaan, ibu, ayah dan semua teman-teman pedagang menjadi penjual kaki lima, ya pedagang kaki lima di pinggir jalan, dengan jualan hanya diatas banner berukuran 2m x 2m, dari jam 8 hingga 4 sore. Saya tidak sanggup membayangkan bagaimana panasnya saat tengah hari, karena tidak ada nanungan diatasnya. Jika mengingat itu sekarang saya masih belum sanggup menahan air mata saya.

Janji Allah itu pasti, Allah tidak akan memberikan cobaan diluar kemampuan umatnya, dan Allah tidak pernah meninggalkan umatnya yang terus berusaha. Jika mengingat kebakaran yang rasanya baru 6 tahun lalu, iya jika hari ini saya mengingat saya merasa 6 tahun lalu bukan waktu yang lama, karena dalam kurun waktu itu Alhamdulilah, Allah memberikan rejeki dan titipan yang jauh lebih besar dari sebelum Allah mengambilnya. Meski mungkin saat Ibu dan ayah melewati 6 tahun itu terasa tidak mudah, tapi mereka mampu dan berhasil melalui dengan sangat, sangat baik.

Saya tidak ingin mengatakan bahwa Ibu dan Ayah saya ikhlas dalam menjalani semua cobaan tersebut, karena sayapun tidak tahu bagaimana shock dan histerisnya beliau saat mendengar toko kebakaran, saat itu jam 3 dini hari. Bagaimana tekanan dan sulitnya melewati keadaan itu.

Saya hanya ingin menunjukan kuasa Allah itu nyata adanya, kita manusia boleh menangis kecewa sedih terpuruk. itu lumrah, hanya jangan pernah lupa untuk kembali ke Allah, jangan terlalu lama menangisi apa yang telah Allah ambil, itu bukan milik kita. Jangan terlalu lama meratapi kesakitan karena kehilangan tersebut. Percayalah Allah maha baik, kembali kepada, terus berusaha, bukankah kita semua tahu, hasil tidak pernah menghianati proses.

Semoga kita adalah manusia yang mampu bangkit sebelum terlambat, mampu sadar sebelum terlambat, mampu berusaha sebelum terlambat, tapi tidak ada yang terlambat jika kita mau memulai.

Mari bersyukur dan menjadi semakin dekat dengan keikhlasan yang membuat hidup menjadi ringan.

Ini Tentang Kita

Hi, Saya Hany..

Terima kasih kepada siapapun diluar sana yang meluangkan waktu untuk membaca dan berbagi bersama saya.

Saya bukan lakon utama didunia ini, tapi setidaknya saya lakon utama untuk hidup saya. Saya hanya manusia biasa yang terkadang memiliki amarah yang begitu tinggi. Tapi saya juga manusia yang mampu belajar untuk kembali kejalan yang seharusnya, dan seharusnya akan lebih baik. Bukankah kita hidup untuk lebih baik dan terus lebih baik lagi?

Tidak ada kebenaran mutlak yang saya janjikan dalam setiap tulisan saya, karena ini bukan bacaan pedoman hidup apalagi kitab suci 🙂 Ini hanya bagaimana sudut pandang saya, sudut yang mungkin acap kali terlewatkan. Ini hanya tentang bagaimana berpikir dengan berbeda, karena berpikir denga cara yang sama, belum tentu mampu membuat kita bahagia. Ini hanya tentang bagaimana berpikir dan menerima, karena terkadang penolakan hanya akan menimbulkan sakit yang lebih lagi.

Saya bersyukur jika memang beberapa tulisan ini mampu membuat merenung sejenak dan membuat tersenyum. Syukurlah. Atau jika tidak, semoga ini bisa cukup untuk menghibur. Atau jika tidak, semoga tulisan saya tidak membuat penolakan yang semakin besar untuk segala keadaan dan situasi yang dihadapi.

Terima kasih untuk bersama dalam segala keadaan, untuk tetap bersyukur, untuk tetap memilih bahagia, untuk tetap teguh. Tentang hidup yang kita miliki, kita yang menentukan untuk menangisi kepahitannya atau menikmati pahitnya. Untuk menyombongkan kebahagiannya atau mensyukurinya. Untuk menerima keadaan yang ada didalamnya atau gigih menolaknya. Semoga kita berada disisi terbaik yang mampu kita jangkau.

Jika mereka bilang hidup ini sudah susah semoga kita tetap bisa menemukan sisi yang akan membuat kita terus bersyukur, terus berjuang dan terus bahagia.

Mari berbahagia bersama.

Kopi

Saya mau membicarakan kopi saya, bukan kopi milik kamu atau kalian.

Ini kopi yang saya miliki, kopi saya, bukan tentang kopi yang di tubruk atau kopi yang digunting. Ini tentang kopi saya, bukan kopi yang diseduh atau dinikmati. Ini tentang saya dan kopi milik saya.

Kopi saya tidak harus hitam dengan rasa pekat, terkadang kopi saya memiliki warna nude yang cantik dengan ice tube yang menyegarkan. Namun saat bertemu dengan aroma kopi yang tersebar melalui asapnya, saya juga bahagia.

Saya tidak mengenal betul bagaimana bentuk dan rupa kopi disetiap sudut, mungkin karena itu saya tidak bisa mengklaim bahwa saya mencintainya.

Yang saya tahu bahwa kopi selalu ada. entah kopi saya hadir dalam balulan rasa pahit atau manis, saya mengagumi kopi dengan segala keterbatasan, saya hanya mampu merasakan bagaimana kopi bisa menyatu dengan cita rasa saya atau kopi hanya melewati tenggorakan saya.

lagi ini tentang saya dan kopi saya, jadi biarkan saya dan segela keterbatasan saya menyatu dengan kopi yang dibuat oleh mereka yang sudah sangat mengenal kopi, biarkan saya bercerita sebisa saya. Bukankah semua yang diciptakan dengan perbedaan untuk saling melengkapi.

Perbedaan saya dengan mereka untuk mencintai kopi adalah jalan masing – masing, tidak ada yang benar dan tidak ada yang salah. Kami hanya saling melengkapi.

Untuk kopi yang selalu ada, meski terkadang hadirmu menyakiti lambung, saya sangat menyukainya, baik hitam atau warna yang lain, baik pahit denga berjuta rasa yang berbeda, saya menyukainya.

Hany and a cup a coffe.

Sebuah Keputusan untuk Memutuskan.

Tidak ada yang tidak pas diDunia ini.

Begitu menurut saya. Semua yang menjadi sulit karena kita yang menentukan itu sulit, semua yang terasa berat, karena kita yang menentukan itu berat. Bukan bermaksud untuk menuliskan bahwa semua terasa mudah dihidup saya.  Saya hanya berbagi bagaimana saya mencoba dan berusaha untuk memutuskan bahwasanya semua bisa mudah dan menyenangkan, membahagiakan. Itu saja.

Satu demi satu, setiap hal yang terjadi dan berakhir tidak sesuai dengan harapan, akan menjadi akhir yang tidak menyenangkan. Saya bertanya mengapa harus tidak menyenangkan? Karena kita yang memutuskan untuk kecewa dan larut didalamnya. Bagaimana, jika seandainya kita memutuskan untuk menerima hasil yang berbeda tersebut? masihkah kita akan merasakan akhir yang tidak menyenangkan?

Takdir setiap manusia sudah digariskan sejak sebelum dilahirkan, namun bagaimana peneriman terhadap ketetapan tersebut yang membuat hidup akan lebih manis. Jika sudah menjadi takdir saya untuk mengalami kesulitan di masa ini, maka saya ‘memutuskan’ untuk menerima dan meng-Imani bahwa akan ada kemudahan setelahnya. Saya akan terus berusaha keluar dan bangkit dari masa ini, namun saya memutuskan melakukannya dengan penuh kebahagian.

Jika saya sadar ini adalah keadaan yang sulit bagi saya, melalui ini dengan pikiran yang berat dan hati yang muram juga bukan jaminan masa sulit saya akan segera berakhir kan? Mungkin hanya akan memperburuk keadaan. Saya memutuskan untuk terus bersyukur karena masa sulit ini datang disaat saya masih mampu menjalaninya. Saya besyukur untuk perhitungan yang tidak sesuai dengan harapan saya, dengan demikian saya masih bisa belajar oleh hal-hal yang luput dari perhitungan saya.

Jika dipikirkan lagi, apa alasan saya untuk tidak bersyukur dan melalui semua dengan hati yang ringan? apakah karena saya harus menunggu lebih lama untuk harapan saya? tentu tidak, saya dilatih untuk bersabar. Apakah karena saya melupakan banyak hal hingga perhitungan saya meleset? tentu tidak, dengan begitu saya belajar untuk melihat lebih luas, belajar lebih banyak untuk memperhitungkan sebuah tujuan.

Tempuh sebaik mungkin jalan yang ada, karena kita tidak akan pernah tahu, apakah benar jalan ini yang tersulit dalam hidup. Bisa saja ini hanya sebuah awal dari jalan yang semakin sulit, jika demikian setidaknya kita sudah belajar untuk terus bertahan. Bukankan belajar dari hal mudah akan lebih gampang? belajar sebaik-baiknya di jalan yang sedang kita lewati adalah bekal terbaik yang bisa dilakukan.

Tempuh sebaik mungkin jalan yang ada, karena kita tidak pernah tahu apa yang terjadi didepan nanti, baguslah jika semakin kedepan jalan kita semakin bagus, setidaknya dari sekarang kita sudah belajar untuk terus bersyukur, sehingga saat kita menemui jalan yang lebih baik lagi, kita tidak akan pernah lupa bersyukur, karena kita sudah belajar dari jalan ini.

Tempuh sebaik mungkin jalan yang ada, karena kita tidak akan pernah tahu apakah ini jalan terkahir yang bisa kita lalui? Allahu’alam. Menjadilah lebih baik dari waktu ke waktu, jangan lakukan untuk siapapun, lakukan untuk memberikan kebahgain pada jiwa kita masing-masing.

Semoga setiap jalan yang ditempuh adalah ladang pembelajaran yang berbuah kebaikan yang menjadikan kita manusia yang terus menjadi lebih baik dan semakin bahagia.

MENYADARI

Hari ini saya melewati lampu merah lagi. Siang ini sangat terik, dan lampu merah menyala cukup lama, mungkin hampir 60 detik, atau lebih, mungkin.

Saya termenung, meratapi keadaan saya yang menurut saya kurang baik, saya memikirkan kewajiban-kewajiban yang harus dilaksanakan dan masih banyak hal. Ya saya mengeluh untuk hidup saya, saya mengeluh “padahal” saya memiliki kaki dan tangan yang lengkap, Alhamdulillah 5 panca indera saya juga berfungsi dengan baik, saya pegawai dengan gaji tetap perbulan, saya anak dari keluarga yang lengkap dan saya isteri yang bahagia. Saya mengeluh ditengah apa yang saya miliki.

Sebenarnya saya tidak sertamerta berfikir bahwa kwajiban saya bukan apa-apa dibanding dengan segala yang Allah berikan dalam hidup saya. Saya tertampar begitu keras oleh apa yang saya dilihat disudut lampu merah.

Dibawah sinar matahari yang begitu terik, ada seorang bapak tunawisma dengan (maaf) kaki yang tidak lengkap. betapa saya menyesal untuk apa yang telah saya keluhkan dalam hati dan saya mengabaikan begitu banyak hal baik yang seharusnya saya syukuri.

Selagi saya memikirkan tentang betapa saya beruntung dibanding bapak tunawisma tersebut, tiba-tiba seorang bapak pengayuh becak menepi, menjulurkan uang kepada bapak tunawisma tersbut, Ya Allah, saya malu.

Saya mengeluhkan begitu banyak hal yang tidak berguna, saya mampu membeli secup kopi dengan pecahan lima puluh ribu tapi saya sering mengeluh tidak punya uang. Saya tidak tahu diri. Saya sangat malu. Saya mengeluh dengan begitu banyak kewajiban dengan bank yang harus saya selesaikan tiap bulan. Ya saya mengeluh, padahal kewajiban terjadi untuk aset yang saya inginkan. saya tahu saya tidak tahu diri 😥

Mungkin apa yang diperoleh bapak pengayuh becak tidak seberapa, dibanding saya (bukan maksud saya untuk membandingkan apa yang saya peroleh dengan bapak pengayuh becak tersebut) tapi saya sangat kalah jauh dibanding apa yang beliau lakukan.

Dalam perjalan saya terus memikirkan betapa banyak hal yang saya lewatkan untuk disyukuri, mungkin benar saya terlalu sering melihat keatas untuk hal-hal yang lupa saya syukuri, saya lupa menengok kebawah untuk sadar bahwa saya harus bersyukur untuk hidup saya. dalam hati saya berdoa untuk kebaikan dan kemulian bapak pengayuh becak, semoga saya terus bisa menyadari bawah saya harus mensyukuri apa yang saya miliki dan saya selalu bisa membantu sesama.

mungkin saya harus lebih sering melewati lampu merah saat siang hari 🙂

Fiksi

pada akhirnya, hati saya pun larut dalam diam.

saya merasakan kecewa yang sangat besar, tanpa ada satupun orang yang dapat mengerti. saya tidak salah ataupun mencoba menyalahkan, saya hanya berusaha menjelaskan situasi yang memuakkan ini. saya hanya berusaha, untuk mengajak bersama – sama keluar dari situasi ini.

keadaan dimana dia merasa baik – baik saja sedangkan saya merasa ada banyak hal yang memilukan hati saya. bukan, saya bukan mengajak sakit hati bersama, saya hanya meminta pertolongan untuk keluar dari hati saya sendiri. sesusah itu kah untuk menjadi teman bicara? membantu saya mengurai beban yang saya sendiri, sama sekali tidak mengerti.

saya butuh teman bicara. saya benci keheningan.

tapi sekarang, saya hanya bisa bicara dalam hati, saya meronta dalam hati, saya bergurau dalam hati, terlalu penuh dalam hati, hingga saya merasa hati saya makin lemah. oh saya salah, hati saya sudah mati.

saya pergi, maaf saya tidak dapat memaafkan dia, dia yang sekalipun tidak pernah meminta maaf.

Mereka yang disebut ‘BONEK’

Bukan hanya kemarin Persebaya berlaga, dan bukan hanya kemarin para supporternya turun berkumpul. Bonek. Itulah sebutan untuk para supporter Persebaya. Saya? Saya bukan perempuan yang mengetahui tentang sepak bola, jadi ya saya bukan Bonek, tapi kalau boleh jujur saya perempuan yang takut berada dijalan kalau Bonek sedang berkumpul atau saat Persebaya sedang merumput. saya hanya mencoba jujur :).

Bonek. Mungkin untuk sebagian orang ketika mendengarnya akan merasa risih atau takut. karena memang tidak bisa dipungkiri Bonek memiliki image yang negative.

Tapi.

Sadarkah kita, pernahkah kita benar-benar memperhatikan para supporter tersebut. Tidakkah kalian merasakan sebuah cinta yang luar biasa besar terhadap Persebaya, Terhadap sepak bola. Saya merasa sangat takjub dan kagum saat melihat ribuan manusia berkumpul untuk sepak bola. Ya, mereka bersatu tanpa membedakan apa-apa. Meraka hanya memiliki satu kesamaan, menyaksikan Persebaya. sesederhana itu.

Perhatikan dengan seksama, Bonek tidak semenakutkan itu. Lihatlah lebih jelas banyak sisi yang tidak terlihat. mengapa hanya mengekspose segelintir oknum yang tidak bertanggung jawab yang mengaku Bonek dan membuat onar? saya tidak mengatakan yang membuat onar dan menjadi provokator bukan Bonek hanya saja meraka yang benar-benar Bonek datang untuk menyaksikan Persebaya bertanding. bukan begitu?

Apakah mungkin seorang ayah yang membawa anaknya yang masih kecil datang ke tribun untuk rusuh? Tidak. Apakah pasangan yang datang ke tribun datang untuk rusuh? Tidak. apakah segerembolan lelaki yang datang ke tribun datang untuk melecehkan perempuan di tribun? Tidak. Untuk apa mereka ke tribun? MENYAKSIKAN PERTANDINGAN.

Mereka datang dengan bangga dan harapan kemenangan, kemenangan bukan tuntutan, kemenangan adalah harapan Bonek pada Persebaya, karena saya yakin, sangat yakin Bonek pasti tahu sebuah pertandingan pasti ada kalah dan menang. bila Persebaya kalah, mereka kecewa. Wajar. apakah pada pertandingan Persebaya selanjutnya tribun menjadi sepi? apakah Bonek berhenti memberi support? tidak. tentu tidak. karena Bonek memiliki ketulusan yang besar.

Saya mencoba mengungkapan kekaguman terhadap mereka yang sejatinya adalah Bonek bukan hanya oknum yang mencoreng nama Bonek. Mereka mengajarkan bagaimana terus memberikan dukungan terhadap apa yang mereka cintai, kagumi, mereka dengan berani membela kawan mereka (semoga kedepannya membela dengan lebih baik bukan darah dibalas darah lagi), para Bonek tidak pernah berhenti memberi support meski terkadang mereka kecewa saat Persebaya tidak menang sesuai harapan mereka, Bonek selalu bersemangat, bersatu tanpa aba-aba, menyatu tanpa membedakan.

Teguhlah kalian para Bonek tanpa mudah diprovokator oleh para oknum yang tidak bertanggung jawab, yang hanya membuat nama Bonek semakin buruk. Kenakan dengan bangga atributmu, bersikan nama BONEK dimulai dari disendiri, jangan beri ruang untuk mereka yang memulai kerusuhan, tidak akan ada bentrok bila mereka hanya memancing tanpa mendapat respon.

Sebelum mempublish tulisan ini, saya berkunsultasi dengan teman saya yang begitu mencintai Bonek, dia Bonek berkelas menurut saya, dia mencintai Persebaya dengan sangat elegan. sebenarnya ada banyak sekali Bonek disekeliling saya bahkan teman perempuan saya ada yang menjadi Bonek, dan saya selalu melihat dia begitu antusias, begitu bahagia saat ‘mbonek‘.

Menurut teman saya, masalah dalam tubuh Bonek itu adalah masalah klasik, satu oknum yang berbuat, yang lain terpancing, akhirnya terjadi keributan, kadang berimbas pada warga sekitar, hingga bahkan memakan korban. Mungkin masalah klasik ini akan teratasi jika perbaikan dimulai dari diri Bonek sendiri, Jangan pernah terpancing oleh oknum yang sengaja ingin membuat keributan, tidak perlu arogan untuk menjadi keren saat berkonvoi, tanpa aroganpun, siapapun yang berkonvoi akan diberikan atau didahulukan oleh pengguna jalan. satu, dua bahkan sebagian Bonek tidak akan mampu merubah keseluruhan Bonek, yang mampu dilakukan hanya kamu menjadi Bonek yang lebih baik, meminta maaf tidak menurunkan derajatmu tapi menaikan nilaimu.

Kalian adalah generasi bangsa yang mampu mengajarkan bersatu dan menyatu dengan sederhana.

Blog at WordPress.com.

Up ↑