Akhir, dan Sebuah Awal

Saat sesuatu berakhir, maka akan ada sebuah hal yang baru dimulai, begitulah kehidupan berjalan.

Tahun ini sudah memasuki penghujung, banyak hal terjadi, banyak kegagalan terjadi dan sudah terlewati, banyak kesedihan dan air mata, dan sudah terlewati juga, banyak keinginan yang mungkin beberapa sudah dicapai.

Sebenarnya ini bukanlah awal yang sebenarnya awal, ini hanya sebuah babak baru, berlanjut dari babak sebelumnya. Jika babak sebelumnya tidak berakhir dengan cukup baik, mulai awal ini dengan hal yang jauh lebih baik, atau setidaknya yang kamu yakini akan menjadi baik. Hidup bukan seperti saldo pada akutansi, dimana akhir harus menjadi awal.

Jadikan semua kejadian menjadi bekal untuk terus menjadi semakin baik, semakin tangguh dan menjadi semakin bahagia. Dengan catatan jangan pernah merasa bahwa bekal yang dibawa adalah kebenaran mutlak. Terus maju, berbekal pelajaran yang ada dan terus sadari yang terjadi disekitar untuk selalu berkembang, bukan hanya maju tanpa tanpa beradaptasi, bukan hanya terdepan tanpa toleransi.

Selamat Tahun baru, selamat datang semangat yang semakin menggebu, Selamat datang mimpi yang terus melaju, mari berbahagia bersama.

 

Advertisements

Cobalah Tengok Sekitar

“coba deh jangan hanya duduk didepan, coba sesekali duduk dibelakang, biar kamu tahu apa yang lain rasakan”…. 

Aku teringat obrolan dengan teman kuliah dulu, saya paham maksudnya, hanya susah terima keadaan. waktu itu. Lama waktu berjalan, saya melupakan apa yang dikatakan oleh teman saya, mungkin sampai sekarang dia lupa pernah mengatakan ini pada saya.

Tapi beberapa keadaan mengingatkan saya dengan ucapan teman saya, sangat benar. Hidup bukan hanya bagaikan koin yang memiliki dua sisi, hidup lebih komplek dari itu, karena semua memiliki sudut pandang sendiri. tidak sama. tapi hidup tidak serumit itu, karena kita akan selalu belajar dari apa yang sudah terjadi, entah terjadi padi diri sendiri dimasa lalu atau mengamati apa yang terjadi disekitar.

Tidak perlu menjadi orang yang serba tahu untuk hidup dengan baik, beberapa orang akan menganggap ‘sok dewasa’ atau sebagian akan menganggap ‘tidak buka mata’. ya tidak buka, karena yang dilihat oleh mata kita, berbeda dengan apa yang lihat orang lain. sudahlah berhenti beranggapan bahwa kita mengatahui banyak hal, jika nyatanya kita hanya melihat satu titik. hidup kita. 

Berhenti sejenak, dan cobalah tengok sekitar. tengok dengan seksama, apa benar, segala sesuatu disekitar sama sengan apa yang dibenak. jika sama, beruntunglah anda. jika tidak sama? terima kenyataan, ada bagian yang tidak sesuai, hadapi dan perbaiki, bukan memaksakan sesuai dengan benak anda, karena lagi dan lagi, kita masih manusia, dan tetap jadi manusi dengan sebanyak-banyaknya perencanaan dan selalu Tuhan yang menentukan hasil.

Hi, Saya Hany.

Hi, Saya Hany.

Saya bukan lagi gadis berusia belia, tapi belum juga berusia dewasa, mungkin hampir dewasa iya. Buat apa saya menulis ini? Saya juga tidak tahu pasti. Saya hanya merasa ada gemuruh besar, sangat besar didada saya.

Begini, Saya sudah bekerja selepas sekolah menengah kejuruan. tidak banyak rupiah yang saya bisa kumpulkan, tapi saya suka bekerja, bukan hanya untuk uang, tapi saya suka menghabiskan waktu dengan bermanfaat. singkat cerita dengan ijazah SMK saya masuk disebuah kantor swasta, biasa memang tapi saya bangga. Dengan jam kerja tanpa shift dan hanya 8 jam sehari, berbeda dengan saat saya menjadi Sales Promotion Girl saya ingin melanjutkan study saya. 

Saya meneruskan pendidikan saya di sebuah sekolah tinggi dikota saya sepulang kerja. banyak orang yang bersecak kagum, entah itu sebuah kekaguman atau hanya basa basi? siapa yang peduli. Saya menikmati saat itu, saya merasa menjadi pelajar dengan uang saku tanpa batas. tidak peduli tidak ada tabungan dalam rekening, saya bangga menjadi pekerja sekaligus mahasiswa. kala itu.

Layaknya mayoritas anak muda yang tidak sepanjang itu memikirkan masa depan, saya selalu melewatkan untuk menabung. Saya melakukan apapun dengan rupiah yang saya punya. Mungkin, (atau pasti) saya melakukan hal tersebut hanya untuk mendapatkan decak kagum oleh rekan sebaya yang tidak bisa seperti saya. Bodoh. Ya saya sadar saya sangat bodoh. Memang dulu terasa bahagia, sepertinya. Saya melakukan ‘apa yang saya kira, munurut mereka adalah hal yang “wow”, bukan apa yang menurut saya membahagiakan’. 

Saya tidak sadar sebodoh itu saya, hidup hanya untuk mendapatkan decak kagum orang lain. kalaupun itu decak kagum? kalau hanya basa basi? bahkan cibiran? ah, hidup terkadang menjadi sekonyol ini.

Lantas bagaimana saya sekarang? Saya merasa masih dihukum oleh Tuhan. Why? meskipun saya tidak pamer, saya pernah hidup dengan tidak mensyukuri nikmat yang diberikan oleh-Nya. Saya hidup untuk saya, untuk membahagiakan orang-orang yang menyangi saya. Bukan egois, tapi berhenti hidup hanya untuk sorakan orang lain.

Mari belajar. Yang tua memang kuno, tapi jika didengarkan dengan seksama, hidupmu akan lebih mudah pada saat yabg sangat tepat. Sekian untuk bagian ini.

Pembelajaran dari ‘Sini’

Di sini adalah tempat kedua orang tuaku lahir, kedua orangtuanya orang tuaku lahir, dan orang tua, dari orangtuanya orang tuaku, orang tua kakek nenekku lahir.

Di sini bukan tempat yang terpencil, karena listrik dan air bersih dapat diakses dengan mudah, disini internetpun sudah dikenal oleh sedikit muda mudi, tapi disini bukan pula tempat yang maju, disini jauh dari kota, cukup jauh dari lampu kota yang menyala dimalam hari. Disini lebih akrab dengan gelap, jarak satu rumah dan lainnya cukup jauh, sepi sekali.

tapi sedikitpun saya tidak melihat penduduk disini kesepian, mereka terlihat dekat satu sama lain untuk rumah yang berjauhan. Penduduk disini bahagia. Bahagia dari sudut pandang saya, mereka tidak memiliki ‘apapun’ yang membuat orang seperti saya bahagia. Jelas mereka tidak memiliki gadget keluaran terbaru, tidak memerlukan pelesir kebelahan bumi yang lain, mereka hanya bercita – cita naik haji. Tapi mereka bahagia. ya jelas terlihat mereka tidak kesusahan dengan keadaan mereka. Tidak, mereka tidak hidup kekurangan, penduduk disini hidup dengan layak, meski hanya rumah dengan dinding bambu.

Oh iya, disini tidak memili pemandangan yang indah seperti yang ada di TV. disini hanya memiliki tumbuhan hijau yang sangat banyak, terlihat sangat indah saat matahari bersinar, dan membuat gelap semakin pekat saat malam datang.

Saya tidak dibesarkan disini, jadi saya sedikit susah untuk mengenali tetangga, yang saya ingat hanya bagaimana tempat ini berubah. setiap saya berkunjung, selalu ada yang berubah. ada rumah yang menghilang, ada rumah yang sudah ditumbuhi semak belukar. mereka yang tidak memiliki anak, lahir menikah, menua dan meninggalkan disini, mereka yang memiliki anak tinggal dan melanjutkan hidup disini. hidup jauh dari kemegahan hidup dikota. apakah mereka tidak ingin tahu bagaimana dunia berkembang dengan sangat sangat hebat? atau ini sudah cukup untuk mereka? apakah tidak berkenalan dengan globalisasi yang membuat mereka bahagia? Entahlah, yang jelas mereka bahagia.

Untuk membayangkan tinggal disini dan melanjutkan hidup disini saya sudah tidak mampu, bukan karena saya menghamba pada kemegahan kota, karena saya memiliki mimpi yang jauh dan tidak bisa terkurung disini. Tapi tidak dengan mereka, bukan mereka tidak memiliki mimpi, mereka bahagia. Mereka sederhana dan bahagia.

Banyak, banyak sekali yang saya pikirkan, bagaimana jika menjadi mereka dan sebagainya, bagaimana menjalani hidup disini, dengan gelap dimana – mana saat malam, dengan pengamanan yang minim, dengan pencuri yang hampir setiap malam mengintai. dan saya selalu tidak mampu untuk memikirkannya, tapi saya mampu, dengan lantang mengatakan mereka bahagia.

Bukan hanya hari ini saya berkunjung kesini, dan pikiran saya selalu sama, bagaimana bisa? Sungguh luar biasa mereka mampu hidup berbahagia dengan semua keterbatasan disini. Saat saya kembali kerutinitas dikota, saya akan mengingat bagaimana seorang nenek yang bertamu ke rumah saya, nenek yang sangat tua, tapi masi terlihat sangat bahagia, sangat sehat. Entah mengapa, nenek itu mengikatkan saya untuk lebih dan lebih bersyukur lagi.PhotoGrid_1511836885729

Dan satu lagi yang sangat sangat saya ingat, bagaimana penduduk di sini sangat menghormati satu sama lain, bahkan orang asing. Tidak perlu lebih kaya, lebih tinggi jabatan atau kelebihan yang lain, mereka tetap saling menghormati. Mereka bersilaturahmi dengan sangat baik, bahkan nenek yang datang kerumah saya, datang hanya untuk bersilaturahmi. Bukan hanya nenek, tapi beberapa tetangga datang hanya untuk berbincang, bukan bertanya bagaimana kota, tapi berkisah tentang kenangan saat nenek saya masih hidup, tentang bagaimana kenakalan saat mami saat masih kanak-kanak. Sangat ringan namun begitu hangat, saya suka saat tetangga berdatangan satu demi satu, hangat dan membuat saya sangat tersentuh. Terimakasih ❤.

 

Jangan Menyesal

Karena hidup terus berjalan. Berjalan maju. tidak ada jalan untuk kembali kebelakang, tidak akan pernah ada. Apa yang ada dibelakang hanya bisa ditengok, diingat dan dipelajari. Tidak ada kesempatan untuk berjalan kebelakang.

Jika sudah demikian, jangan biarkan penyeselan mendapatkan tempatnya. Apa yang sudah terjadi, biarkan apa adanya, menyesalpun tidak akan sedikitpun mampu merubah yang telah terjadi. Hidup berjalan, terus berjalan, dan tidak akan pernah terhentikan.

Lakukan semua yang perlu dilakukan, lakukan sebaik-baiknya, agar mendatang, tidak perlu berharap hari ini bisa diulang. Jangan berkata sulit, jika tidak ingin menjadi sulit. Yakini, semua mudah, berdoa agar dipermudah berusaha agar semua mudah. Jika memang sulit, tetap yakin bahwa segala kesulitan akan ada kuncinya. Semua tercipta lengkap dengan pasangannya. Tidak akan pernah terasa suka bila belum pernah merasakan duka.

 

Berbahagialah

Bahagia bukan datang dari luar, berhentilah mencari kebahagiaan. Bahagia datang dari segala penjuru. Temukan kebahagiaan terdekat, bahagia dari dalam hati. Jangan mengira bahagia seperti mereka, seperti orang lain.

Salah besar bila beranggapan bahwa bahagia adalah mereka. Diam sejenak dan lihat pada diri sendiri. Memang sangat berbeda dengan mereka. Karena perbedaan tersebut bahagia bukan seperti mereka, bukan seperti orang lain. Bila kita bisa bahagia dengan se-cup ice cream, lalu mengapa kita berpikir bahwa bahagia harus memiliki mobil mewah?

Jangan salah kaprah, bermimpi dan dan jadilah optimis untuk mewujudkan mimpi, tapi jangan menjadi tidak bahagia jika mimpi belum bisa digapai. Nikmati saja, Jika hari ini, masih mampu bernafas kamu bahagia, kamu masih memiliki kesempatan untuk meraih mimpi. Jika hari ini masih mampu berusaha, berbahagialah kamu semakin dekat dengan mimpimu.

Terima dengan baik apa yang Tuhan sudah gariskan. Jangan kecewa bila apa yang ingin digapai hari ini belum terwujud, setidaknya kamu semakin deket dengan usahamu. Lantas apa alasan untuk tidak berbahagia?

Cobaan datang, berbahagialah, kamu sedang diajarkan untuk lebih kuat. Berhenti berharap seperti orang lain, bersyukurlah untuk dirimu hari ini. Hari ini dan dirimu, bersepakatlah dengan dirimu untuk menentukan kesuksesan yang akan digapai. Lakukan sebaik-baiknya dan teruslah bersyukur, berbahagia, dan lihatlah sudah berapa deket kamu dengan kesuksesan yang kamu inginkan.

Jangan menjadikan hidup sulit. rasakan, semua yang menjadi milikmu, baik itu kelebihan dan kekurangan pasti mampu membuat bahagia. Jangan lupa untuk bersyukur dan berbahagialah.

Dia-ku (Cinta Pertama)

Saya terlahir sebagai perempuan, saya tidak pernah tahu akan seperti apa saya nantinya, akankah saya seperti apa yang selalu saya harapkan? atau lebih baik dari itu? atau bahkan yang lebih buruk saya tidak tidak menggapai harapan saya.

Saya hidup dengan pikiran bahwa saya hidup dengan berpegang teguh, setidaknya hidup saya deket dengan harapan saya jika memang saya tidak mampu menggapai harapan saya. Itu yang selalu saya pikirkan saat saya beranjak remaja.

Apa harapan saya? Saya ingin seperti ibu, yang memiliki Ayah sebagai pendamping hidup. Saya anak perempuan ayah saya. Bukan hanya saya, ayah saya memiliki tiga lagi anak perempuan lainnya. Ayah saya adalah pria tertampan dikeluarga saya.

Ya, Ayah cinta pertama saya. Saya bukan anak perempuan yang ayah manja, karena ayah menyayangi kami sama rata. Saya rasa banyak anak perempuan yang memimpikan pasangan yang sebaik ayah mereka.

Ayah, dia tidak banyak bicara pada saya. tapi saya tahu dia amat menyayangi saya. pasti. Ayah saya tidak selalu memenuhi permintaan saya, tapi saya tahu ayah saya sangat peduli. Ayah saya penyayang, sangat penyayang meskipun kami tidak banyak saling membicarakannya.

Sekalipun saya tidak pernah mendengar ayah saya mengatakan bahwa ayah menyayangi saya. Tapi dari kerasnya ayah bekerja, untuk mencukupi kami, ayah tidak pernah mengeluh sakit meskipun ayah tidak sehat, saya tahu ayah menyayangi kami.

Ayah, ayah tidak banyak bicara dengan saya, tapi saat saya pulang kerja, ayah sudah membuatkan saya teh hangat. Ayah saya orang yang sangat tegas dan disiplin. Saat saya memutuskan untuk kuliah malam, saya sangat tahu bahwa ayah saya sangat keberatan. Untuk ayah saya, anak perempuannya harus sudah di rumah saat saat jam 21.00. Selain itu, ayah berpikir pendidikan saya adalah tanggung jawab ayah, tapi saya mengambil alih, karena saya tahu ayah sudah sampai pada batas kemampuannya. Saya tahu ayah sesakit itu saat harus merelekan saya baru pulang diatas jam 22.00 dan saya mengemban biaya kuliah saya sendiri.

Saya tahu betapa ayah mengalah dengan membiarkan saya kuliah malam. Saya tahu betapa ayah saya khawatir menunggu saya pulang, meskipun tidak sekalipun ayah menelpon. Saya tahu Ayah masih terjaga menunggu saya pulang, meskipun saya tidak melihat ayah menunggu. Saya tahu ayah tidak memberikan materi untuk membantu saya saat kuliah, tapi saya selalu melihat ayah bangun disepertiga malam, untuk mendoakan saya dan saudari saya.

Ayah tidak banyak berbicara dengan saya, ayah tidak banyak marah atas tingkah saya. Tapi saya tahu bagaimana ayah bercerita pada ibu, dan ibu yang memarahi saya. Ayah dan saya tidak memikiki lagu yang kita sukai bersama, saya hanya tahu ayah begitu suka lagu dangdut lawas, yang belakangan sudah sangat jarang ayah dengarkan.

Tidak, saya tidak bermasalah atau bertengkar dengan ayah saya, tapi begitu adanya ayah saya. saya susah memahami, kerap kali saya berpikir ayah tidak menyayangi saya seperti ayah menyayangi kakak dan adik saya. ternyata saya salah, sangat salah. Saya lalai membawa jas hujan saat musim hujan datang, tapi ayah selalu memasukkan kedalam jok motor saya tanpa saya pernah tahu kapan ayah melakukannya, dan saya tidak perna sadar, bahwa ayah tahu saya selalu melupakan jas hujan.

Ayah, semoga Allah memberikan saya kesempatan untuk membahagiakan ayah, saya tahu masih banyak yang ingin ayah inginkan meskipun ayah tak pernah mengatakan, meskipun ayah tidak pernah memintanya. Ayah, doa ayah juga turut andil membuat saya seperti sekarang, sikap ayah juga membuat saya belajar seperti sekarang.

Ayah, saya tahu ayah tidak akan pernah membaca ini, tapi saya ingin mengungkapkan betapa saya memuji ayah, menyayangi ayah, mencintai ayah, semoga ayah selalu sehat, semoga saya masih bisa berbakti lebih lama lagi.

Terimakasih Ayah ❤

15578670_651337091704578_3152660878689647336_n

Sajak

Aku menelisik jauh ke dalam pikiran.

Aku mencari Sajak yang biasa lalu lalang,

aku kehilangan.

Aku merindukan.

Aku tak tinggal diam. Aku berusaha mengebalikan Sajak – Sajak untuk ku keluarkan dari pikiran.

Aku bertanya, apakah aku penyair yang sudah kehilangan sajak? apakah aku  sama seperti yang mereka ucapakan? bahwa aku layaknya pena yang mengering tintanya.

Aku jatuh cinta untuk setiap sajak yang teruntai.

Bisakah aku kembali marajut sajak-sajak menjadi syair seperti penyair.

aku merindukan decak kagum ku untuk syair ku. 

Aku sudah menunggu hujan, aku sudah berdiri dibawah senja, aku sudah bertemu mendung namun sajak ku tak kunjung datang 

Aku merindukan. aku rindu kembali bersyair.

Hari Ini Menanti Hari Esok

Katakanlah hari ini dimulai dengan cukup berat. Membuka mata dengan kesadaran bahwa ada banyak hal yang harus dihadapi dan belum tentu bisa diselesaikan.

Hari ini membuat sangat frustasi, hingga sanggup membuat menangis dan menjadikan saya orang yang bodoh. Saya merasa sudah melakukan semua yang terbaik semaksimal mungkin. Dengan sadar, dengan segala keputusasaan, saya merasa dibiarkan olah Tuhan, saya merasa apa yang dibebankan kepada saya melebihi kapasitas saya.

Iya saya tahu, semua akan berkata, Tuhan tidak akan memberikan cobaan melebihi batas kemampuan umatnya, tapi saya merasa saya tidak sekuat itu. Saya mau pasrah, tapi pasrah sama halnya membiarkan keadaan ini, sedangkan keadaan ini sama sekali tidak bisa dibiarkan, bukan hanya harus dihadapi melainkan harus diselesaikan.

Haruskah saya menyerah disini? menyerah pada semua mimpi yang dan harapan yang selama ini saya bangun, bukan hanya dengan kringat tapi juga dengan darah saya?

Akan sangat bodoh rasanya bila saya kalah oleh keadaan ini, saya tidak tahu pasti bagaimana mengatasi keadaan ini, tapi yang jelas saya yakin, dengan sangat yakin bahwa besok, lusa, minggu depan, bulan depan atau bahkan beberapa tahun kedepan saya akan bangun dan bersyukur hari ini sudah terlewati.

Mungkin saya mengatakan Tuhan seperti menyakiti saya, tapi saya tetap datang dan berdoa padaNya. Saat saya merasa semua jalan keluar yang mampu saya pikirkan sudah tertutup, saya yakin jalan yang Tuhan berikan akan sangat indah dan tidak terpikirkan oleh saya.

ya, hari ini saya berharap agar esok segera hadir dan saya sudah mampu melewati ini semua. dan satu lagi. Saya akan selalu mengingat bahwa saya memulai perjuangan ini bukan untuk menyerah. Tidak juga untuk kalah. Mungkin saya mengeluh tapi saya tidak akan pernah kalah.

Jika saya berhenti dan menyerah akan keadaan yang sulit ini, akan sangat, sangat sia-sia semua pengorbanan, keringat, tenaga, waktu dan darah yang berkucuran untuk saya sampai disini. Terkadang, terbesit pikiran akan lebih baik menyerah disini, daripada semakin jauh dan semakin banyak yang akan melempuhkan, tapi saya tahu, semakin tinggi akan semakin kencang angin menggoncang.

Terlebih, saya rasa cobaan tidak berniat mengalahkan saya sama sekali, lucu bila saya kalah. Cobaan adalah pijakan yang dibuat Tuhan untuk saya bisa sampai pada level yang lebih tinggi. Ah seandainya saya selalu bisa sesadar ini, mungkin saya akan berhenti mengeluh dan selalu lebih bersemangat, bersyukur dan lebih bahagia untuk semua mimpi dan hidup yang saya mikiki. saya akan berusaha. 

Saya bersiap untuk mimpi saya dan semua rintangannya. saya bersiap meskipun saya terkadang kelelahan karena saya manusia. tapi saya tidak bersiap untuk menghadapi yang terburuk karena saya tidak ingin berburuk sangka terhadap masa mendatang. Bukan saya tidak bersiap dengan segala kemungkinan, hanya saja kenapa saya harus memusingkan hari esok dari hari ini, sedangkan hari esok adalah semangat saya untuk tetap kuat hari ini. saya hanya cukup melakukan yang terbaik hari ini, untuk membuat hari esok makin cemerlang.

Jika nyatanya besok ada hal baru yang harus saya selesaikan lagi, saya sudah membawa bekal dari hari ini, saya tidak akan semakin lemah oleh semua cobaan, cobaan akan memberi saya amunisi untuk semakin kuat kedepannya.

Hi! Iam Hany, lets be brave.

Blog at WordPress.com.

Up ↑